6 Tips untuk Mengatasi Insomnia

6 Tips untuk Mengatasi Insomnia

Setelah seharian melakukan aktivitas baik sekolah atau bekerja tubuh kita sangat membutuhkan yang namanya beristirahat seperti halnya mesin tentu akan mengalami masalah jika terus-menerus bekerja tanpa di hentikan dan tanpa diimbangi perawatan yang baik.

Insomnia sebagian besar didorong oleh perilaku yang dibiasakan, kata Shelby Harris, Psy.D, direktur pengobatan gangguan tidur di Montefiore Medical Center. Sebelum menderita insomnia, Anda mengasosiasikan tempat tidur dengan aktivitas beristirahat alias tidur.

"Ketika Anda mulai mengembangkan insomnia, asosiasi itu berubah menjadi tempat tidur sama dengan berbaring gelisah, banyak pikiran dan kekhawatiran," kata Harris menjelaskan.

Untuk menyembuhkan insomnia, sangat penting untuk mengubah asosiasi itu. Dalam kebanyakan kasus, terapi perilaku kognitif cukup efektif untuk menyembuhkan insomnia.

Namun, jika Anda tidak dapat menemukan dokter atau terapis yang bisa membantu, Harris menyarankan Anda mencoba langkah-langkah ini.

1. Camkan dalam pikiran bahwa tempat tidur hanya untuk tidur dan seks

Jika Anda melakukan hal-hal lain di tempat tidur, seperti mengerjakan sisa pekerjaan kantor, menonton TV, atau melamun gelisah, berarti Anda telah mengembangkan kebiasaan yang akan menyebabkan insomnia.

Jika Anda terbangun di tengah malam dan tidak dapat segera tidur kembali, keluarlah dari kamar sekitar 20 menit.

"Jangan berbaring di tempat tidur lalu bolak-balik gelisah. Itu mengajarkan tubuh Anda bahwa tempat tidur adalah tempat untuk terjaga dan bukan untuk istirahat," kata Harris.

Ketika terjaga, laukan sesuatu yang menenangkan dalam pencahayaan yang redup. Misalnya bermeditasi. Jangan memakai cahaya yang terlalu terang karena akan membuat Anda semakin sulit tidur.

2. Pergi tidur hanya ketika Anda lelah

Jika Anda bangun di tengah malam dan meninggalkan ruangan untuk melakukan beberapa aktivitas yang menenangkan, kembalilah ke tempat tidur hanya ketika Anda merasa mengantuk.

Jika Anda kembali berbaring dan masih tidak bisa tidur, bangun dan lakukan lagi suatu aktivitas yang menenangkan.

"Anda harus melatih tubuh Anda. Semakin sering Anda melakukannya, semakin tubuh Anda akan belajar," kata Harris.

3. Meditasi

"Meditasi bukan pengobatan standar untuk insomnia, tetapi kami memasukkannya ke dalam paket paket terapi pengobatan gangguan tidur," kata Harris.

Tubuh kita tidak bisa memasuki mode on atau off semudah kita mematikan lampu. Perlu proses untuk masuk ke mode off setelah seharian kita berada dalam mode on.

Cara terbaik untuk melakukannya adalah melalui meditasi. Latihan kesadaran dan pernapasan dalam, akan membantu Anda fokus dan perlahan memasuki mode off.

4. Jangan terlalu memaksa diri

Jika Anda memaksa, Anda akan semakin sulit tidur," kata Harris. "Pemaksaan akan membuat tubuh dan pikiran semakin tegang sehingga akhirnya Anda semakin tidak bisa terlelap."

Jika Anda menemukan diri Anda melakukan pemaksaan, berpikir keras untuk bisa cepat tertidur, bangun dan bermeditasilah.

5. Tetapkan waktu tidur dan bangun yang konsisten

Tetapkan waktu tidur dan bangun yang teratur selama tujuh hari dalam seminggu, adalah penting bagi mereka yang menderita insomnia kronis.

"Jika Anda pergi tidur dan bangun lebih terlambat di akhir pekan, berarti Anda mengacaukan jadwal biologis tubuh yang sudah Anda buat teratur sedemikia rupa di hari-hari sebelumnya," kata Harris.

Efek sampingnya, Anda mungkin akan sulit kembali ke jadwal yang seharusnya pada hari Senin dan mungkin juga Selasa. Anda terpaksa harus berjuang lagi untuk bisa tidur dan bangun lebih awal.

6. Jangan melihat jam atau ponsel Anda

"Jika Anda bangun di tengah malam dan tidak dapat kembali tidur, jangam melihat jam," kata Harris. Jika Anda melakukannya, Anda akan berpikir banyak hal; sudah berapa jam Anda tidur, berapa jam lagi Anda harus bangun, berapa jam Anda kehilangan waktu tidur.

"Ini membuat Anda melakukan hitungan matematika dan matematika buka hal yang menenangkan," ujar Harris.

Jangan juga melihat ponsel, karena cahaya biru dari layar ponsel akan mengganggu kerja hormon melatonin.

Hormon melatonin adalah hormon yang menyebabkan seseorang mengantuk dan tubuh memroduksinya ketika suasana sekitar Anda gelap.

4 Pandangan Salah Tentang Asuransi Jiwa dan Kesehatan

4 Pandangan Salah Tentang Asuransi Jiwa dan Kesehatan

Sebagai manusia biasa yang bekerja dalam setiap harinya dan memiliki tanggungan kita sangat di wajibkan memiliki asuransi kesehatan atau bahkan asuransi jiwa.

Tingkat kesadaran berasuransi di tengah masyarakat Indonesia sejauh ini masih rendah.
Industri asuransi di Indonesia memang terus bertumbuh, akan tetapi bila dibandingkan negeri tetangga seperti Malaysia dan Singapura, industri asuransi di Indonesia masih ketinggalan. Terutama dari sisi penetrasi produk ke masyarakat.

Masih rendahnya penetrasi produk asuransi di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari tingkat literasi keuangan yang masih rendah. Berikut ini pandangan salah kaprah yang berkembang di masyarakat, dan bagaimana pandangan yang lebih tepat mengenai asuransi.

1. Membuang uang percuma


Masih banyak kalangan yang menganggap, membeli asuransi sama saja membuang uang percuma. Malah, tak sedikit yang menilai membeli asuransi sebagai langkah investasi.

Pandangan seperti itu sebenarnya salah kaprah. Asuransi dalam kamus perencanaan keuangan adalah salah satu strategi manajemen risiko finansial. Dengan membeli produk asuransi, kita mengalihkan risiko keuangan pada pihak ketiga yaitu perusahaan asuransi.

Gampangnya begini, sebagai manusia biasa Anda memiliki risiko untuk sakit. Sakit membuat Anda harus berobat yang menguras biaya.

Kondisi sakit juga membuat Anda tidak bisa bekerja. Dengan membeli asuransi kesehatan, ketika risiko sakit itu menimpa Anda, biaya berobat dan kerugian akibat produktivitas yang terhenti, Anda alihkan ke perusahaan asuransi. Perusahaan asuransi yang akan membayar biaya berobat tersebut.

2. Asuransi dan penghasilan

Banyak yang salah kaprah dalam tujuan membeli asuransi. Pada saat memiliki penghasilan, banyak orang yang langsung membeli asuransi. Padahal langkah ini belum tentu benar. Membeli asuransi diperlukan jika Anda telah memiliki tanggungan seperti anak atau istri.

Saat itulah sebagai pencari nafkah Anda mengalihkan risiko kematian atau kesehatan diri dan keluarga kepada perusahaan asuransi. Jika belum memiliki tanggungan, belum ada kondisi mendesak bagi Anda untuk memiliki asuransi.

3. Asuransi jiwa tak wajib

Demikian juga dengan asuransi jiwa. Selama ini asuransi jiwa sering disepelekan sehingga tak banyak yang membeli asuransi jenis ini.


Padahal jika Anda sudah bekerja dan memiliki tanggungan yang akan terpengaruh kesejahteraan hidupnya bila Anda meninggal dunia, maka memiliki proteksi jiwa adalah wajib hukumnya bagi Anda.

Asuransi jiwa tersebut akan berfungsi menggantikan kontribusi finansial Anda kepada para ahli waris yang selama ini menjadi tanggungan Anda.

Sebaliknya, bila Anda sudah bekerja tetapi tidak menanggung siapapun, belum perlu bagi Anda membeli asuransi jiwa. Jadi, perlukah anak muda membeli produk asuransi?

Untuk asuransi kesehatan, Anda bisa menjadi peserta BPJS Kesehatan, untuk mengcover risiko-risiko terkait kesehatan. Bagaimana dengan asuransi jiwa?

Bila Anda saat ini sudah menanggung hidup orang lain, seperti orangtua, adik, atau saudara, maka lebih baik memiliki asuransi jiwa.

4. Salah mengasuransikan diri

Dan jangan salah mengasuransikan diri. Pencari nafkah, suami atau istri, itulah yang diasuransikan. Bukan anak atau istri/suami.

Artinya risiko si pencari nafkah ditanggung oleh perusahaan asuransi. Jika mengalami kematian, misalnya, ahli waris seperti anak dan istri, akan tetap menjalani kehidupannya dengan dana risiko dari perusahaan asuransi.

Maklum, masih banyak konsumen yang salah dalam membeli asuransi, terutama asuransi jiwa. Pencari nafkah membeli asuransi untuk anak atau istri, padahal mereka bukan pencari nafkah. Istri, jika sebagai pencari nafkah bersama suami, dapat membeli asuransi jiwa dengan ahli waris anaknya atau keluarganya.